The Blowing Wind

Inilah aku, di sekolah baru yang asing bagiku. Hari ini pasti terjadi lagi.
Aku melangkahkan kakiku menuju koridor.
Aku membuka pintu kelas yang masih sepi itu.
Hari ini seharusnya tak terjadi lagi, inilah aku seorang manusia rapuh yang menyimpan sebuah rahasia berupa kotak pandora di dalamnya.

“Yap anak- anak. Kalian sudah mengetahuinya’kan?”
“Sir, ngomong apa sih??~~” Sahut seorang murid

“Ng- itu.. teman baru kalian..” Guru itu melihatku.

“Aku?!” Tanyaku pada guru sambil menunjuk diriku sendiri.

“Hey, kamu~ Iya kamu~~” Lawak orang yang duduk di depanku,dia sang provokator, tapi aku sama sekali tak tertarik padanya akibat ucapannya tadi -_-

“Kamu! Dikelas malah pakai jaket?! Ga panas apa.” Sahut murid lain

“Iya tuh! Mana warnanya norak lagi T_T” Sekarang gantian yang duduk di sebelah kiriku -_-

“Ngapain lu pakai topi segala? Lu mau nge-dance??” Ucap seseorang -_-

Seisi kelas menertawakanku, aku hanya memandang kosong,, melamun~

BRAKKK!!

Kesadaranku mulai kembali.

Guru itu yang memukul meja, “Berhenti! Nah kamu, silahkan maju kenalin dirimu ^_^”

Aku menoleh sekitar, lalu bangkit dengan malasnya dan maju ke depan. Sampai di depan, guru itu tersenyum padaku mengisyaratkan untuk aku memulai perkenalannya.

“Rebbeca Lawrence.” Ucapku singkat.

Guru itu dan murid- murid lain memandangku heran. Aku tak peduli

“Ahahah.. kau lucu sekali Lawrence..” Sambil berkata seperti itu, guru itu menyentuh pundakku. Aku pun menepisnya, dan berjalan kembali ke tempat duduku di pojok.

Sang guru itu shock tapi aku tak peduli. Aku berjalan dengan di ikuti mata- mata yang memandangku.

Aku merekatkan topiku kebawah, menutupi pandangan- pandangan mereka

Untuk apa berteman kalau nanti ayah akan dipindah tugaskan lagi? Pikirku

Istirahat pun tiba. Tak ada orang yang mau berbicara denganku, malah mereka pikir aku adalah orang aneh. Syukurlah. Inilah yang kuharapkan.

Aku menuju ke atap sekolah, karena atap adalah tempat yang paling bagus untukku menyendiri.

Kubuka pintu atap. Kulihat seorang laki- laki yang sedang berdiri membelakangi pintu, dia berpostur tegap. Mungkin dia adalah anak atlet? Basket mungkin? atau atlet makan? Huh! untuk apa aku peduli?

Aku berputar ke sisi lain atap (tentu saja untuk menghindari mereka, maksudku menghindarinya.” Aku duduk di pojok.

“Hai~~”

Aku menoleh, dia.. anak yang tadi? Betapa kerennya!! Ah tapi masa bodoh, aku memalingkan pandangan ke arah lain. Ada tangan yang menyentuh pundakku dan memutar tubuhku.

“Apa?!” Ucapku ketus.

“Kamu inget aku?” Tanyanya sok imut sembil mengedip- ngedipkan matanya.

Huaaaaaa T_T Iyuhhhh!! Bwekbwek!!

“Kamu siapa sih? LEPASKAN!!” Bentakku.

“OH ternyata kamu sudah lupa~~”

Dia melepaskan tangannya dari bahuku, bangkit berdiri dan beranjak menjauh dariku. Ih?! Ni anak apaan sih? Heran deh! Apa coba maksudnya mengatakan ‘Oh, ternyata kamu sudah lupa’ ?~

Ah apa- apaan sih! Wajah cowok tadi masih tergiang, otakku tak berhenti mencoba mengingatnya. Namun tetap tak berhasil. Hentikan! Aku tak pernah menyuruh otakku untuk berpikir!

Sepanjang perjalanan ke rumah menjadi kejadian yang paling mengerikan. Ntah kenapa aku merasa hawa yang amat sangat mencengkram. Dan anehnya aku merasa ada yang mengikutiku, lalu setiap aku menoleh ke belakang.

Ah, iya aku belum cerita ya? Rumahku yang baru ini sangat dekat dengan sekolah, jadi aku tak di antar- jemput oleh orang tuaku,, dan aku jalan kaki sendiri.

Saking takutnya di sore yang mencengkram itu aku memutuskan untuk berlari.

Sampai di rumah, tiba- tiba ada yang menelponku.

“Haloo??”

“….”

“Halooo…? ini siapa???””

“….”

Tut. Apaan sih! Jangan bikin aku parno ah! Aku mematikan handphoneku, makudnya teleponnya. Setelah itu ada sms masuk dari nomer spam.

+81347xxxxx

 Keluarlah

Hm? Huh? Apa ini? Nomer yang tadi? Keluar? Maksudnya apa sih?

Karena penasaran, aku pun keluar untuk memastikan siapa yang berani menelponku malam- malam dan menyuruhku keluar.
Kubuka pintu depan rumahku, tampak lah sesosok cowok dengan kemeja yang keluar dan celana jins biasa :v

Dia kan?? Cowok atap T-T batinku

“Kamu ngapain berdiri di situ?” Tanyaku sambil melipat tanganku (lalu disetrika )
Dia menghembuskan nafas lalu membalikan badannya menatapku, apaan sih maunya? batinku.

Dia tersenyum lalu membuka pembicaraan, “Selamat malam Rebbeca ^_^ Kamu benar- benar melupakanku ya ^_^” ucapnya sambil terus tersenyum masam.
Aku memang tak punya ingatan tentangnya, “Memangnya kamu siapa sih?” tanyaku ketus. Dia merundukan kepala dan tersenyum sedih, “Aku…” dia memegang kepalaku dan menatap mataku dalam- dalam.

Ingatan. Ia memberikan aku ingatan tentang masa laluku.

Dia adalah sahabat karibku pada saat Sd dulu, dari dulu dia selalu berangkat sekolah bersamaku karena rumahnya dan rumah-dinas-ku bersebelahan. Kita melewati masa- masa Sd dengan bahagia.

Sampai pada suatu hari orang tuanya bertengkar hebat, orang tuanya bertengkar sambil melempar- lempar segala hal yang ada (piring, kaca, pisau, gunting) O_O gila tuh!

Dia keluar sambil menangis dan berteduh di bawah pohon persik, aku yang habis jalan- jalan pun melihatnya dan menghampirinya. Kebetulan aku habis memetik bunga di taman dekat rumah.

“Kamu kenapa?” Tanyaku perhatian.

Dia tak menjawab dan tetap menangis. Aku mengeluarkan bunga yang dari tadi aku kantongi di sak bajuku yang lebar, bunga itu bunga melati.. baunya sangat enak dan harum efeknya nenangin hati.

“Nih, coba kamu hapus air matamu dulu dan hirup ini perlahan.. ini akan menenangkanmu.” Ucapku

“Bisakah kamu berjanji padaku untuk selalu ada disisiku?” Tanyanya

Aku hanya menganggukan kepala dan tersenyum manis

Dia sangat penurut, dia melakukan hal yang kuperintahkan dan tangisnya reda.

Terakhir yang ku ingat adalah dia tersenyum dan perlahan- laham memudar. Dia hilang

Aku tersentak melihat pemandangan barusan, di-dia.. Joel?!?

Joel adalah teman kecilku yang sudah meninggal, dia terbunuh saat orang tuanya saling melempar barang tajam.. terbunuh karena pertengkaran orang tua yang amat sangat sadis!

Nasibnya sungguh malang! di saat orang tua yang bertengkar, dia bermaksud melerai untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Tapi dia malah terbunuh akibat orang tua yang sama sekali bodoh! Dengan pisau yang menancap tepat di dada sebelah kirinya.

Hari itu 13 September 2001 pada jam 03.37 p.m. dia terbunuh dengan sadis, sebelum benar- benar meninggalkan dunia.. dia berpesan pada kedua orang tuanya untuk berdamai. Kedua orang tuanya hanya bisa menangis, tak ada yang dapat mereka lakukan. Ini sepenuhnya kesalahan mereka! Ini salah MEREKA!!!!

“Jo-Joel..” Ucapku terbata, tanpa aku sadari air mata membasahi pipiku.

“Sekarang kamu sudah mengingatku..” Katanya sambil tersenyum sedih, “Tapi kenapa kamu dulu melupakanku hah? Padahal kau berjanji untuk tetap berada di sisiku. Tapi kamu malah pergi!!!”

Aku hanya diam, meskipun aku punya 100 mulut, tidak ada yang dapat aku sampaikan padanya. Aku terlalu bersalah. Joel yang malang… maafkan aku!

“Kenapa Rebbeca?! JAWAB!!” Teriaknya sambik terus mengguncang- guncangkan tubuhku.

“A-aku.. minta ma-maaf..” Jawabku terbata

“MINTA MAAF?! Hahaha!! Kamu kira dengan semudah itu?!” Joel menaikan nadanya dan tertawa pahit.

“Ma-maaf Joel.. apa yang harus aku lakukan??” Aku memegangi kepalaku yang serasa mau pecah itu.

“.. Sudahlah! Aku sudah muak melihat wajahmu!” Dia membalikan badan dan berjalan menjauh

“Tunggu! Jangan pergi dulu… Jangan pergi!!!!!!” Teriakku sambil mengejarnya. Aku memandang matanya yang bening itu, benar- benar keren! Tapi.. kenapa dunia kita sekarang sudah berbeda Joel?!

“Jangan pergi.. Please… kalau kamu pergi bawalah aku.. bawa aku huaaa….. >_<” Teriakku sambil terus memohon.

Dia memandangku dengan tatapan sedih. Memang kita sudah tak ada harapan. Ini nggak adil! Ini nggak adil!!!!! Kenapa kau terenggut dariku..

“Sudah Rebb.. hentikan. Hukum atmosfer tidak mengijinkanku untuk berada di bumi lebih dari ini.”

“Jangan.. jangan.. >_<”

Dia tiba- tiba memeluku, “Sampai jumpa.. jangan lupakan aku lagi ya~”

dan memudar~~~

“Heh!!! JOEL!!!!!!!!!!”

1 Tahun Kemudian…

KRING!!!!KRING!!!

“Rebb, ayo kita habis ini ke McD! Tenang aja aku traktir ^_^”

“Asyikkkk!!! >_<” Teriakku kegirangan.

Aku melihat langit yang cerah tanpa awan sedikit pun dan mendengar whisper

Kasihku sampai disini
Kisah kita
Jangan tangisi keadaannya
Bukan kar’na kita berbeda..

Dengarkan.. dengarkan lagu
Lagu ini.. melodi rintihan hati ini
Kisah kita berakhir di januari..

Annyeong, Jonathan Raphael.” Ucapku sambil tersenyum

Cerita ini tidak akan complit kalau tidak ada kata Tamat.

Advertisements

25 thoughts on “The Blowing Wind

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s