Sumimasen! Suki dayo >_< – Ichi

“Yosh! Aku akan bekerja keras untuk dapat masuk ke sini!!” Seru Kim Hye-Ji selagi memandang sekolahan yang berada di depannya, Hye-Ji mengembangkan senyum percaya dirinya kemudian bergegas pulang kerumahnya.

Kim Hye-Ji adalah seorang gadis remaja sederhana, dia mempunyai adik laki- laki atau lebih tepatnya adalah kembarannya yang bernama Kim Hyo-Jung. Hyo-Jung termasuk murid paling pintar di sekolahannya, dia sangat disukai oleh para guru karena kelakuannya. Sama seperti Hye-Ji yang selalu menyelesaikan masalah di sekolahan.

Hye-Ji dan Hyo-Jung hanya tinggal berdua, mereka tidak mempunyai orang tua atau istilahnya yatim piatu karena orang tua mereka sudah meninggal dunia.

Bagaimana mereka bertahan hidup? Gampang saja, orang tua mereka meninggalkan warisan yang sangat banyak. Tapi mereka juga harus bekerja untuk bisa makan. Kutegaskan saja ya disini. Mereka bukan orang kaya, atau konglomerat. Mereka hanya beruntung saja. Kok bisa? Simak dulu dong ceritanya!

“Kak, hari ini kita mau makan apa?” tanya Hyo-Jung dari kamarnya dengan suara lantang.

Hye-Ji yang masih asyik mencoret- coret bukunya pun menghentikan aktivitasnya sejenak, “Kita makan mewah aja deh hari ini,” dia kembali dalam aktivitasnya.

“Asyikkk!!! Sekali- kali gini dong!” Hyo-Jung melonjak gembira dari kamarnya dan langsung bersiap- siap untuk pergi menghampiri kakaknya yang malah sama sekali belum ganti baju.

Hye-Ji bingung dengan apa yang dilakukan Hyo-Jung, ia menghentikan aktivitasnya lagi dan bertanya, “Mau kemana?”

“Katanya mau makan mewah.”

“Ya, kita makan mewah dirumah.”

Hyo-Jung mengigit bibirnya. Padahal ini adalah moment yang ia tunggu- tunggu, makan di luar.

“Dasar jahat!!!” Teriak Hyo-Jung, “Sekali- kali makan di luar saja!”

“Makan di luar yaa.. gampang kan? Kita masak di sini, terus makannya di teras.” Ucap Hye-Ji tanpa menoleh ke kembarannya yang mulai terlihat kecewa itu.

“Maksudnya beli di restoran atau cafe atau tempat lain kan bisa?”

“Tunggu aku gajian yaa~”

“Nggak! Aku mau sekarang!”

“Hyo-Jung, Ak-“

“KAKAK!!!”

Hye-Ji tidak bisa berkutik kalau Hyo-Jung mulai memanggilnya ‘Kakak’, karena Hyo-Jung tidak pernah memanggilnya ‘kakak’ kecuali dia benar- benar menginginkan sesuatu, selain itu dia juga anak yang pintar terutama soal berdebat. Hye-Ji terpaksa menuruti kata kembarannya, karena kalau nggak Hyo-Jung akan melakukan hal nekat lain toh juga mereka jarang makan di luar. Yah.. sebenernya itu disebabkan oleh Hye-Ji sih, karena dia prinsipnya adalah sehat dan hemat.

Mereka berdua akhirnya pergi ke rumah makan terdekat, mumpung hari ini hari minggu kerja sambilan Hye-Ji sedang libur. Mereka duduk di bangku paling pojok.

“Mau pesan apa, nona?” Kata seorang pelayan yang menghampiri mereka.

Pasta dua, minumnya air putih saja ya.” Hye-Ji menatap Hyo-Jung lebih tepatnya memelototi, memastikan kalau dia tidak pesan lagi.

Beef Steak satu.” Hyo-Jung sangat menyukai Beef steak, tapi Hye-Ji melupakannya karena saking lamanya mereka nggak makan diluar.

“Baiklah, saya ulangi, Pasta dua dan Beef steak satu. Minumnya air putih ya. Silahkan tunggu sebentar.” Pelayan itu menuju meja pemesanan dan menyampaikan apa yang Hye-Ji dan Hyo-Jung pesan.

Hye-Ji adalah gadis yang amat pintar untuk mengatur keluaran dan pendapatan mereka. Kalau bisa dibilah sih, ini namanya istri idaman. Hye-Ji tak pernah tertarik untuk membeli hal- hal yang tidak penting seperti para gadis kebanyakan. Dia hanya membeli sesuai kebutuhan. Keinginannya? Hidup tenang dan mapan.

Setelah menunggu beberapa menit.. pesanan mereka pun datang, mereka langsung menyantapnya dengan lahap. Jarang- jarang mereka makan yang mahal gini. Cara mereka makan seperti orang yang nggak makan setahun. Untungnya rumah makan- atau lebih tepatnya restoran- itu sepi, jadi tidak begitu malu- maluin.

“Aduh, perutku kenyang.” Hyo-Jung memegangi perutnya yang terasa kencang.

“Iya, aku juga..” Hye-Ji tampaknya juga sama.

Bagaimana nggak mau kenyang coba? Pasta-nya aja ukurannya yang Large. Apalagi Hyo-Jung, udah pasta.. masih makan Beef steak lagi.

Setelah mengambil nafas beberapa menit (baca: menunggu perut memproses makanan), mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Tentu saja setelah Hye-Ji membayar semuanya.

“Hhh.. aku menyesal.” Ucap Hye-Ji sambil memandang struk pembayaran, “Habisnya melebihi gajiku sebulan.”

“Nggak papa lah Hye-Ji. Toh kan masih ada uang warisan itu kan?” Hyo-Jung berjalan santai di sebelahnya.

“Huss, sembarangan aja!” Hye-Ji memukul pundak Hyo-Jung karena berkata sembarangan soal ‘warisan’ itu. Hyo-Jung mengeluh kesakitan namun Hye-Ji diam dan tetap jalan.

Di tengah perjalanan pulang, handphone Hye-Ji berbunyi.

Trilili-lili-trililili-lili

Hye-Ji mencari handphonenya dan mengangkatnya, “Hallo?”

“Hallo, Hye-Ji kamu dimana? Aku menunggu di depan rumahmu, dari tadi ku bunyikan bell tapi nggak ada yang menyaut.” Ucap suara dari seberang.

“Ini siapa?” Hye-Ji mengerutkan kening. ‘Suara cowok.. siapa ya? Teman sekelas kah? Nggak mungkin! Aku kan nggak akrab sama siapapun di kelas, apalagi cowok. Siapa ya kira- kira?’, batinnya.

“Kenapa?” Tanya Hyo-Jung.

Hye-Ji mengangkat bahunya tanda nggak tahu.

“Ini aku.” Sahut suara itu.

“Siapa sih?” Hye-Ji mengerutkan keningnya dan berusaha berpikir suara siapa itu.

“Sang-Min.” Jawab suara itu setelah diam beberapa detik.

“Astaga, ternyata kamu! Ada perlu apa?”

“Pertama- tama, cepatlah kembali. Dingin tau!”

“….”

Tut. Hye-Ji menutup teleponnya.

“Siapa sih?” Tanya Hyo-Jung lagi, hanya karena penasaran. Ternyata Hye-Ji punya teman- mungkin.

“Oh, ini? Sang-Min,” Jawab Hye-Ji asal- asalan sambil memasukan handphonenya ke dalam tasnya kemudian menutup tasnya kembali.

“Sang-Min? Tem-“

Hye-Ji langsung berlari dan meninggalkan Hyo-Jung yang masih kesusahan untuk berjalan, karena perutnya terlalu kenyang.

“Hye-Ji!! Tunggu aku!” Teriak Hyo-Jung dari belakang, tapi Hye-Ji tetap meninggalkannya sendiri, aku mulai berpikir kasihan sekali Hyo-Jung ini.

Hye-Ji mempercepat langkahnya menuju rumah, karena di sana ada Park Sang-Min yang sedang menunggunya.

Saat perjalanan pulang Hye-Ji melewati jalan pintas untuk segera mencapai rumahnya. Jalan yang dilaluinya sangatlah sepi, sampai tidak ada orang yang berlalu lalang disitu. Lampu jalan itu remang- remang, jadi Hye-Ji tidak begitu jelas melihat depan. Kemudian Hye-Ji tidak sengaja menabrak orang karena saking terburu- burunya.

“Aduhh.” Hye-Ji sempoyongan ke belakang, “Ka-“

“Kurang ajar, apa maumu?” Bentak orang itu. Laki- laki bertubuh besar itu berdiri tegak.

Hye-Ji menengok ke atas untuk melihat orang yang dia tabrak. Glek. Walaupun keadaan sekarang lumayan remang remang, Hye-Ji dapat melihat orang itu dengan jelas. Preman. “Ma-maaf, aku tak sengaja.”

“Memangnya cukup dengan minta maaf?! Bayar!” Orang itu berkata sambil membuka tangannya untuk meminta uang.

“Apa?? Kan aku ti-“ Hye-Ji ingin membantah karena dia memang tidak bersalah, preman itu (setidaknya itu yang terlihat di mata Hye-Ji) yang salah.

“Mau mati ya? Kubilang bayar!!”

‘Aduh.. masalah apa lagi ini, uangku udah ludes tadi buat makan’, batin Hye-Ji sambil menelan ludahnya. Dengan segenap keberaniannya dia berkata, “A-aku tidak punya uang.”

“Aku tak mau tau.”

“….”

 


Gomennasai >_< baru sempet upload ‘-‘ (btw aku nggak sempet aplot perjalananku ke Bali ‘-‘ karena.. nggak ada wifi dan nggak sempet nulis.. ._.)

Ceritanya tuh aku harusnya udah aplot beberapa hari yang lalu. Tapi karena kemarin lusa tiba-tiba hpku layarnya kretek ._. sentet beneran :v jadinya nggak bisa buka WordPress untuk sementara. Hontou ni gomennasai. Lewat laptop agak susah.. karena aku juga ga punya wi-fi dan google chrome-nya agak soak ‘-‘

^^ Penjelasan yang di ulang” :v -_-

Next Post pun bisa jadi bulan depan (ngenes banget gw ‘-‘) Gomen ne~ Tto boja everyone :v

 

*) Btw aku lagi ada di rumahnya Neko-chan ini (jadi bisa ngaplot :’v wkwkwk)

Advertisements

11 thoughts on “Sumimasen! Suki dayo >_< – Ichi

  1. Salah satu kesulitan terbesar dalam memahami budaya Korea dan orang-orangnya adalah sulit membedakan nama laki-laki dan perempuan. Dalam bayanganku nama Kim selalu seperti seorang laki-laki gempal berambut cepak dan berkulit putih. Sementara di sini Kim adalah seorang gadis cantik.

    ..
    Lho kenapa nggak tiap hari aja ke rumah nekochan? Biar bisa upload terus
    hahahha

    Liked by 1 person

  2. Tadi km barusan tanya ”gimana ceritanya”? :v
    Sejauh ini… bagus sih :v cuma agak kurang srek sm beberapa kata2nya 😂 tp itu masalah selera sih, jd… keep writing aja :v
    aku ngetik apaan sih -,-

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s